<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rest and Relax</title>
	<atom:link href="http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny</link>
	<description>Try to be Wise</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 06:15:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Jadwal Disiplin Staf</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=332</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=332#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 05:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[MTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Disiplin adalah merupakan salah satu karakteristik masyarakat akademis, oleh karena itu baik dosen maupun staf dituntut untuk dapat selalu menjalankan kewajibannya sesuai dengan tuntutan profesi. Bagi staf tidak boleh melalaikan tugas dan tanggung jawabnya untuk selalu hadir tepat waktu, sementara bagi dosen juga dituntut untuk selalu menjalankan tugas-tugasnya sebagai pendidik dalam mendidik mahasiswanya secara bertanggung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disiplin adalah merupakan salah satu karakteristik masyarakat akademis, oleh karena itu baik dosen maupun staf dituntut untuk dapat selalu menjalankan kewajibannya sesuai dengan tuntutan profesi. Bagi staf tidak boleh melalaikan tugas dan tanggung jawabnya untuk selalu hadir tepat waktu, sementara bagi dosen juga dituntut untuk selalu menjalankan tugas-tugasnya sebagai pendidik dalam mendidik mahasiswanya secara bertanggung jawab. Berikut adalah edaran untuk beridisiplin kepada staf di lingkungan J.TETI FT UGM, &lt;&lt;<strong><a href="http://mti.ugm.ac.id/dokumen/disiplin.pdf">di sini</a></strong>&gt;&gt;</p>
<p>Lalu untuk dosen kira-kira kedisiplinan itu diatur di mana dan bagaimana ya ? (kebebasan akademik ?? maksudnya bebas masuk / tidak ??)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=332</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Layanan Prima</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=324</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=324#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 05:51:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Layanan Prima&#8221;&#8230;sebuah kata yang sangat sulit untuk dilaksanakan oleh siapapun yang bergelut di bidang &#8220;pelayanan&#8221;. Ketika berhubungan dengan client&#8230;yaitu pihak yang &#8220;dilayani&#8221; pastilah akan ditemukan ketidakpuasan dalam skala yang beragam, mulai dari kecil sampai yang fatal. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh siapapun guna menghilangkan distorsi bernama &#8220;Complaint&#8221; dalam dunia pelayanan (service), yang bisa dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Layanan Prima&#8221;&#8230;sebuah kata yang sangat sulit untuk dilaksanakan oleh siapapun yang bergelut di bidang &#8220;pelayanan&#8221;. Ketika berhubungan dengan <em>client</em>&#8230;yaitu pihak yang &#8220;dilayani&#8221; pastilah akan ditemukan ketidakpuasan dalam skala yang beragam, mulai dari kecil sampai yang fatal. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh siapapun guna menghilangkan distorsi bernama &#8220;<em>Complaint</em>&#8221; dalam dunia pelayanan (<em>service</em>), yang bisa dilakukan adalah menangani komplain secara proporsional. Tidak ada jasa layanan dalam bidang apapun, dan siapapun yang menyelenggarakan jasa di dunia ini yang bisa membuat <em>Zero Complaint</em>, akan tetapi bagaimana mengelola <em>complaint</em> ini secara proporsional dan profesional adalah tantangan yang harus dijawab oleh sebuah perusahaan yang menitikberatkan kelangsungan hidupnya dari &#8220;Layanan&#8221; (<em>service</em>).</p>
<p><span id="more-324"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, jika kita berada dalam sebuah perusahaan yang berhubungan dengan layanan jangan pernah merasa takut menghadapi komplain, dan jangan bermimpi bisa menghindari komplain sebagai bagian dari bisnis proses sehari-hari. Jangan pernah merasa phobia dengan istilah &#8220;<em>Complaint</em>&#8220;&#8230;Hadapilah secara bijaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sebaliknya, jika kita berada sebagai <em>client</em> / konsumen&#8230;yaitu pihak yang &#8220;dilayani&#8221;&#8230;jangan pernah merasa <em>over estimated</em> terhadap apapun yang menjadi &#8220;tawaran&#8221; sebuah produk atau jasa. Kita harus selalu mempersiapkan diri berada dalam posisi <em>margin of error</em> dari sebuah produk atau layanan, karena tidak pernah ada barang dan jasa yang sempurna. Gunakan hak kita sebagai <em>client</em>/konsumen untuk melakukan komplain secara proporsional.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak jarang sebagai perusahaan penyedia barang / jasa kita dihadapkan kepada sebuah &#8220;<em>Black Campaign</em>&#8221; dari<em> client</em> / konsumen yang merasa dirugikan, dan tidak puas dengan <em>complaint management </em>yang diberikan. Tidak perlu merasa panik menghadapi setiap <em>Black Campaign</em> yang digunakan konsumen guna menekan kita sebagai penyedia barang / jasa, akan tetapi jangan pernah pula menganggap angin lalu setiap <em>black campaign</em> yang dihembuskan. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Layanan prima berawal dari hati&#8230;keinginan memberikan sesuatu yang terbaik kepada <em>client </em>/ konsumen, terlepas bahwa selalu ada distorsi yang mengintai setiap saat. Jangan pernah menilai yang kita lakukan adalah sudah baik / benar&#8230;biarkan orang lain yang menilai&#8230;.lakukan saja apa yang seharusnya kita lakukan, berikan apa yang seharusnya kita berikan, dan segera perbaiki dan meminta maaf jika ada kekurangan / kesalahan yang kita lakukan. Jika prinsip-prinsip dasar layanan sudah kita lakukan, maka biarkan &#8220;waktu&#8221; yang menjadi &#8220;hakim&#8221; atas jerih payah yang telah kita lakukan. Kita harus siap dengan setiap hasil penilaian yang kita dapatkan&#8230;kita harus siap dinilai Baik ataupun Buruk&#8230;kedua-duanya memiliki konsekuensi yang tidak ringan.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kita bisa menjadi &#8220;pelayan&#8221; yang baik dalam setiap sisi kehidupan, di manapun kita berada&#8230;dan semoga kita bisa menjadi client / konsumen yang proporsional dalam memberikan penilaian atau menuntut haknya untuk dilayani&#8230;jangan lupa bahwa setiap diri manusia bisa menjadi &#8220;pelayan&#8221; dan &#8220;<em>client</em>&#8221; / kosumen&#8221;, sehingga tidak bijak untuk memposisikan diri pada salah satunya secara berlebihan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=324</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Delegasi</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=314</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=314#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 03:52:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[MTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Setiap musim ujian tiba sudah menjadi barang yang tidak asing melihat kesibukan karyawan di sana-sini menyiapkan kelengkapan ujian. Mulai dari penyiapan ruangan sampai dengan penjadwalan mengawas saat ujian. Jujur saja buat saya adalah sesuatu yang aneh ketika saat ujian mahasiswa justru tidak didampingi langsung oleh pengampu. Jika demikian maka bagaimana pengampu bisa mengetahui secara riil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setiap musim ujian tiba sudah menjadi barang yang tidak asing melihat kesibukan karyawan di sana-sini menyiapkan kelengkapan ujian. Mulai dari penyiapan ruangan sampai dengan penjadwalan mengawas saat ujian. Jujur saja buat saya adalah sesuatu yang aneh ketika saat ujian mahasiswa justru tidak didampingi langsung oleh pengampu. Jika demikian maka bagaimana pengampu bisa mengetahui secara riil kemampuan mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan ? Misalnya, dalam mengerjakan soal ada mahasiswa yang berusaha melakukan kecurangan (entah berhasil/tidak), sebenarnya secara gesture (bahasa tubuh) ini bisa diketahui oleh pengampu. Ini yang kemudian bisa menjadi justifikasi pengampu dalam menilai.</p>
<p><span id="more-314"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu hal lain yang tidak kalah penting adalah ketika ada beberapa soal yang perlu klarifikasi dengan pengampu, misal angka tidak jelas, salah ketik, dan persoalan teknis lain yang dapat menyebabkan salah persepsi dalam pengerjaan, mestinya sudah menjadi kewajiban pengampu dalam meberikan petunjuk dan pengarahan. Bukan suatu hal yang mustahil mahasiswa salah mengerjakan karena adanya multi interpretasi dalam teknis penyajian petunjuk pengerjaan soal, dan tidak semeastinya terjadi jika saat ujian mahasiswa didampingi oleh pengampu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah jadi kebiasaan (yang menurut saya buruk) bahwa di perguruan tinggi, dosen itu semangatnya hanya jika mengajar saja (ini pun selalu diwarnai dengan kuliah kosong)..dan dengan berbagai alasan dosen merasa jemu untuk mengawasi ujian yang alasannya hanya diam saja, tidak produktif untuk dosen, dll. Ini alasan yang sangat tidak rasional..dosen itu dalam memberikan perkuliahan kepada mahasiswa sesuai dengan kurikulum adalah 1 paket dengan saat evaluasi&#8230;artinya bukan hanya memberi soal, tetapi juga mengalokasikan waktu untuk mengawas. Tetapi sudah jadi barang umum di hampir seluruh perguruan tinggi yang menjadi seksi sibuk mengawas ujian adalah karyawannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hal-hal teknis tertentu, misal penempelan nomor, menyiapkan kertas dan penggandaan soal ujian, denah tempat duduk, atau yang sifatnya non material lain oke-oke saja jika disiapkan oleh karyawan, tapi saat berjalannya ujian saya berpendapat Dosen harus datang di tempat. Toh dari sisi honorarium mereka mendapatkan hak yang sama dengan mengajar. Lain ceritanya jika karyawan yang mengawas, tidak mungkin mereka akan diberikan honorarium mengawas sebesar yang diterima dosen saat mengawas ujian..jadi ya wajar kalo pada saat mengawas banyak karyawan yang tidak peduli mahasiswanya mencontek atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Domain mereka hanya datang melihat saja, dan memastikan ujian berjalan sesuai jadwal&#8230;tidak ada tanggung jawab moral untuk mereka tegas dengan mahasiswa yang curang (bagi yang berbaik hati sich ada juga pengawas yang serius). Misalnya : HR Dosen mengawas adalah 150 ribu, apakah untuk karyawan juga sama ? Tidak mungkin&#8230;paling pol untuk karyawan paling-paling 35 atau 40 ribu saja&#8230;Nah, wajar jika mereka juga tidak menjalankan hal yang semestinya dilakukan saat mengawas. Kewajiban karyawan datang tepat waktu dikelas, dan mengumpulkan semua pekerjaan dengan lengkap&#8230;Selesai. Ngapain juga susah-susah mencatat kecurangan mahasiswa, toh tidak ada nilai plusnya. Bahkan tidak sedikit yang ngawas ujian justru ditinggal tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang apa mau dosen menandatangani daftar hadir mengawas, dan sebagi konsekuensi tidak hadir dia lantas memberikan honornya pada karyawan yang mengawas saat itu ? Tentu tidak mau&#8230;kalau sudah tanda tangan ya biasanya dikantongi sendiri. Lalu jika sekarang karyawan diwajibkan buat mengawas saat dosen tidak hadir, mengapa kemudian haknya justru diperkecil ? Mengapa tidak dibuat sama sehingga mereka bisa menjalankan tugas mengawas yang semestinya dilakukan dosen sesuai dengan rambu2 yang ada&#8230;? Jadi dala  mengawas itu juga ada standar kualitas yang harus dijaga oleh para staf dalam menjalankan kewajibannya. Kalau belum-belum dari sisi hak saja sudah dibedakan, ya mana mau mereka capek-capek mengawas berkualitas&#8230;Ini telah menjadi logika umum yang mestinya tidak dilupakan oleh pada pengambil kebijakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Budaya delegasi inilah yang sangat tidak baik di lingkungan perguruan tinggi..pada akhirnya karyawan kadang-kadang menjadi &#8220;orang suruhan&#8221; yang tidak punya &#8220;hak&#8221; untuk menolak&#8230;saya sering mendengar jika ada karyawan yang bekerja tidak sesuai dengan keinginan dosen sering diintimidasi&#8230;&#8221;Nanti kamu saya usulkan buat dipecat !&#8221;&#8230;Lho apa hubungannya ?? Jelas dosen yang bermental seperti itu menurut saya perlu dibumihanguskan dari dunia akademik di Indonesia saat ini. Kalo jaman penjajahan dulu mungkin masih laku, tapi dengan kondisi persaingan global seperti ini, mental-mental seperti itu harus dibrangus&#8230;Saya kira masih ribuan dosen dengan kualitas lebih unggul dan bisa toleran dan saling menghargai dengan rekan kerja 1 institusi di Indonesia ini yang bisa diberdayakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, mungkin ini catatan penting untuk kita semua bahwa budaya delegasi itu harus proporsional&#8230;jangan asal mendelegasikan saja, perlu tau karkater, tugas, hak, dan kewajiban masing-masing. Memiliki kemampuan mendelgasikan pekerjaan secara tepat itu memang sebuah keahlian tersendiri, dan tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Kemampuan ini perlu dimiliki oleh organisatoris sejati. Tetapi &#8220;KEBIASAAN&#8221; mendelegasikan pekerjaan itu hanya dimiliki oleh para pemalas yang tidak mau bekerja dan biasanya memiliki sifat semaunya sendiri dan tidak mau diatur. Jadi Budaya Delegasi itu punya 2 konotasi, ada positif dan negatif.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah orang yang memiliki budaya delegasi yang positif, karena kemampuan itu akan meningkatkan kinerja organisasi secara berlipat-lipat. Dan perlu dicatat bahwa saya yakin seyakin-yakinnya bahwa karyawan itu tidak memiliki mental bekerja yang buruk selama mereka mendapatkan hak dan kewajiban secara proporsional..Tidak perlu dilebih-lebihkan, tetapi juga jangan dikurang-kurangi. Tetapi jika Kewajiban selalu ditekan-tekan kan kepada mereka sementara hak selalu diulur-ulur dipres dan bahkan diupayakan ada pengecilan di sana-sini, maka bersiap lah untuk menerima kualitas kerja yang buruk. Tidak perlu memberikan ancaman banyak ribuan yang antri atas pekerjaan seorang karyawan untuk bisa berbuat lebih dari yang sudah ada, karena sesungguhnya hanya bicara masalah waktu saja&#8230;perasaan untuk dihargai itu adalah naluri manusia siapapun dan kapan pun itu&#8230;ganti orang ratusan kali pun akan sama saja hasilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=314</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan dalam Kenangan</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=308</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=308#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 01:31:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[MTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Dulu iklim kerja saya sangat ambisius, dinamis, kreatif, penuh dengan mimpi dan cita-cita yang tinggi. Pertumbuhan kami berbanding lurus dengan kerasnya kinerja yang saya (kami) lakukan, saat saya (kami) bersemangat pertumbuhan bisa dicapai sangat pesat, saat saya (kami) datar-datar saja pertumbuhan juga dapat dirasakan tidak terlalu signifikan, dan disaat saya (kami) lemah maka pertumbuhan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dulu iklim kerja saya sangat ambisius, dinamis, kreatif, penuh dengan mimpi dan cita-cita yang tinggi. Pertumbuhan kami berbanding lurus dengan kerasnya kinerja yang saya (kami) lakukan, saat saya (kami) bersemangat pertumbuhan bisa dicapai sangat pesat, saat saya (kami) datar-datar saja pertumbuhan juga dapat dirasakan tidak terlalu signifikan, dan disaat saya (kami) lemah maka pertumbuhan itu sulit untuk dideteksi.</p>
<p><span id="more-308"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada kata sayang untuk meluangkan waktu dalam kerja keras demi mencapai target-target yang kami impikan&#8230;bahkan selama beberapa tahun boleh dikatakan saya bekerja dalam tensi yang sangat tinggi&#8230;serasa 24 jam sehari itu kurang dalam hidup saya. Sering kali saya masuk kerja belum ada 1 orang pun yang saya temui, hanya penjaga gedung yang semalam telah menjalankan tugas..dan saat saya datang menjelang pulang dan berganti shift dengan yang lain. Tidak jarang juga saya menginap di tempat kerja demi menyelesaikan target-target yang harus diselesaikan dari berbagai pihak. Mengapa saya bersedia seperti itu ? Karena saya mendapatkan begitu besar amanah untuk membesarkan image, menata organisasi, dan diberikan ruang gerak yang sangat luar biasa. Bersama dengan tim saya berusaha keras menjaga amanah untuk membesarkan tempat dimana saya mencari nafkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang dalam perjalanan selalu saja ada aral melintang, tetapi itu tidak memupuskan harapan saya untuk selalu menata dan menata semuanya supaya dapat berjalan sesuai dengan koridor organisai dalam mencapai tujuannya. Usulan tidak didengar itu hal biasa, rencana tidak disetujui juga bukan hal yang aneh, bahkan seringkali saya harus menjalankan sebuah kebijakan yang itu sama sekali bertentangan dengan prinsip dan hati nurani saya tetapi semua itu saya jalani dengan hati yang teguh dan prinsip yang tetap konsisten. Dengan 1 harapan bahwa suatu hari saya akan mengubah semua ini menjadi sesuatu yang penuh arti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini waktu telah berganti, beberapa kali pergantian tahun sudah aku alami bersama dengan rekan-rekan yang lain. Masih saja dengan harapan dan asa yang sama&#8230;satu semangat mencapai tujuan&#8230;&#8221;Perbaiki, Tata, Besarkan&#8221;. Tapat diawal 2 tahun yang lalu kami semua mendapatkan sebuah Mukjizat&#8230;sebuah kondisi di mana &#8220;apa&#8221; yang selama ini ingin kami bangun sudah mulai ada setitik harapan untuk dicapai. Tidak peduli dengan kelelahan fisik, pikiran, dan bahkan lelah psikologis selama ini saya bersama dengan rekan-rekan merapatkan barisan. Barisan yang dulu tidak pernah kokoh karena adanya &#8220;kerikil&#8221; yang mengganggu tapak kaki kami untuk melangkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa menunggu terlalu lama kami semua merapatkan barisan&#8230;menyatukan visi misi&#8230;menyatukan persepsi&#8230;menggabungkan semangat&#8230;demi masa depan yang lebih cerah. Tidak ada yang menjadi leader, semua sama, yang menjadi leader kami adalah mimpi, harapan, dan optimisme meraih sebuah cita-cita. Ide-ide brilian yang memang realistis untuk dilaksanakan, mengapa tidak ? Siapapun pelontar ide akan dihargai selama memang rasional dan realistis untuk dicapai. Ini yang membuat suasana menjadi cair&#8230;jika dibiarkan berkembang maka saya yakin ini adalah sebuah kegilaan yang tak terkira dalam pencapaian kami selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegilaan demi kegilaan sudah kami raih, meskipun itu baru bibit-bibit kecil yang masih perlu untuk dipupuk dan disirami supaya menjadi kokoh dan semakin kuat. Gaya kerja konvensional kami tinggalkan&#8230;ritme dan irama baru kami ciptakan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi apa yang terjadi kemudian ? Perubahan besar dan sangat cepat terjadi di penghujung tahun lalu&#8230;.dan tidak perlu terlalu banyak saya ungkapkan di sini bahwa semua itu telah merusak mimpi-mimpi kami&#8230;merusak semangat yang telah kami bangkitkan&#8230;dan merusak semua fondasi yang telah di tata. Kami dipaksa untuk membangun fondasi baru, tapi fondasi seperti apa semua orang merasa tidak jelas. Merusak tatanan tanpa konsep itu memang sangat mudah, bisa dilakukan oleh siapapun&#8230;saya pun mampu melakukan perombakan-perombakan yang cepat dan fenomenal&#8230;Tapi ya itu, cuma merombak saja. Bukan sebuah prestasi yang membanggakan menurut saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan lebih prestisius jika perombakan yang dilakukan itu tertata, terkonsep, dan dilakukan secara gradual, bertahap namun pasti. Disitulah kejeniusan seorang leader bisa dibaca oleh semua orang. Meminimalisir efek kejut, tetapi dalam waktu singkat mampu menunjukkan perubahan-perubahan signifikan yang sesungguhnya adalah menciptakan kultur baru. Memang sangat sulit dan tidak semua orang bisa mampu melaksanakan ini. Orang lebih suka dipandang bergerak cepat, ekstrem, tetapi melupakan hasilnya, tidak masalah, masa bodoh..yang penting Top.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir cerita bahwa kini tidak ada lagi &#8220;kegilaan-kegilaan&#8221; yang dulu kami ciptakan dan rasakan, kini yang ada hanya perasaan &#8220;hampir gila&#8221;&#8230;perasaan yang kontra produktif untuk ber gila-gila ria&#8230;Kini saya hanya bisa mengikuti irama&#8230;tidak perlu terlalu konfrontatif&#8230;ikuti saja arus yang ada&#8230;sadar lingkungan&#8230;.Toh tidak ada sesuatu yang salah ketika saya beradaptasi dengan lingkungan. Jika dikatakan melanggar, apa yang saya langgar ? Jika dengan apa yang saya lakukan sekarang melanggar&#8230;maka artinya seluruh komunitas saya juga pelanggar juga&#8230;apakah salah jika saya proporsional ?</p>
<p style="text-align: justify;">Kini aku harus meningkatkan kemampuan matematika, khususnya dalam hal penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian&#8230;.sangat penting dalam menjaga keseimbangan kinerja saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada harapan lain kecuali aku bisa memberi nafkah kepada isteri tercinta entah seberapa pun jumlahnya&#8230;kini aku sudah tidak bisa lagi banyak berharap..suka tidak suka harus bertahan&#8230;aku tidak bisa lagi memilih&#8230;waktu untuk memilih adalah beberapa tahun yang lalu saat aku masih muda&#8230;kini aku hanya bisa bersifat opportunis&#8230;cari posisi yang aman&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Tuhan bersama-Ku melewati sisa hidup untuk menafkahi keluarga&#8230;.Atau jika Tuhan berkehendak aku bisa mencapai sesuatu yang lebih baik, maka aku pun tidak bisa menolak kehendak itu. Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=308</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Iqra’ Travel</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=291</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=291#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 06:29:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Pada mulanya travel baru yang saya kenal belum ada 1 tahun ini sangat mengesankan pada gebrakan manajemennya yang mana mampu membuka jalur transportasi 24 Jam dengan jalur Jogja – Semarang secara konsisten tanpa ada delay sedikitpun. Bahkan akhir-akhir ini saya selalu menggunakan jasanya untuk “nglaju” Jogja –Semarang PP. Dalam benak saya, travel ini akan membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada mulanya travel baru yang saya kenal belum ada 1 tahun ini sangat mengesankan pada gebrakan manajemennya yang mana mampu membuka jalur transportasi 24 Jam dengan jalur Jogja – Semarang secara konsisten tanpa ada delay sedikitpun. Bahkan akhir-akhir ini saya selalu menggunakan jasanya untuk “nglaju” Jogja –Semarang PP.</p>
<p><span id="more-291"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam benak saya, travel ini akan membuka layanan dengan system berlangganan, artinya kita sudah booking dahulu tiket perjalanan misalnya selama  beberapa kali. Ternyata dugaan saya salah, artinya bahwa buat penumpang yang “militan” seperti saya sekalipun untuk melakukan system berlangganan masih belum memungkinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai calon pelanggan yang setia dengan moda transportasi ini masih harus dianjurkan untuk berebut dengan penumpang lain yang nota bene belum tentu rutin menggunakan jasa ini, bahkan dibayar di muka pun manajemen travel ini tidak membuka diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah-wah..unik juga ini pola manajerialnya, dan sulit untuk dimengerti secara awam. Mungkin ada semacam tips and trick yang menjadi rahasia dapur mereka dalam mengelola bisnis transportasi ini. Cukup manrik rasanya untuk diikuti. Dikala yang lain-lain berlomba-lomba dalam mengikat penlanggan dengan berbagai model (misalnya kartu berlangganan, kartu anggota, dll), travel ini justru memilih menghindari model yang demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sempat beberapa kali terkejut…saya sering menjumpai travel ini tidak penuh dalam perjalanan membawa saya dari Semarang – Jogja…bahkan saya sempat dibawa sendirian saja (serasa carter mobil saja hehehe)….Dan yang mengherankan bahwa saya beberapa kali menjumpai travel ini selalu ada seat yang kosong meskipun pada saat pemesanan selalu dibilang penuh. Beberapa kali saya nembak ke operator iseng2 nanya siapa tahu ada yang batal, dan ternyata beberapa kali berhasil, disaat yang sama pasti ada 1 atau 2 seat yang kosong.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu saya mencoba berpikir, kenapa kok demikian ya…sampai saat ini belum ada jawaban yang pas yang saya temukan…Dan disela-sela saya berpikir saya tidak pernah mendapatkan seat pada saat pemesanan. Ketika diberitahukan pemesanan baru dibuka tanggal 29 November 2011, saya cek tanggal 28 ternyata sudah penuh…Hhhmmmm, jangan2 nanti ada yang kosong lagi saat pemberangkatan…tapi apa motivasinya ya kok mau dipesan dan dibayar di muka kok menolak ? Aneh juga…</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya tidak pernah ada seat yang kosong pada saat periode pembukaan pendaftaran, lalu sistem marketingnya seperti apa ya&#8230;?&#8230;benar-benar model baru dalam sistem marketing management.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=291</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psikolog Vs Dukun Modern</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=289</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=289#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Jika ada yang menggugat validitas assessment psikologi terhadap kinerja karyawan, maka saya bisa dibilang termasuk orang yang berada di barisan terdepan yang mendukungnya. Berikut alasan saya : Apakah karyawan sebuah perusahaan / adalah pelukis ? Coba tanyakan ke Bos masing-masing. Apakah melukis itu jadi pekerjaan harian dari para pekerja itu ?, dan apakah keahlian melukis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ada yang menggugat validitas assessment psikologi terhadap kinerja karyawan, maka saya bisa dibilang termasuk orang yang berada di barisan terdepan yang mendukungnya.</p>
<p>Berikut alasan saya :<span id="more-289"></span></p>
<ol>
<li>Apakah karyawan sebuah perusahaan / adalah pelukis ? Coba tanyakan ke Bos masing-masing. Apakah melukis itu jadi pekerjaan harian dari para pekerja itu ?, dan apakah keahlian melukis menjadi salah satu dari visi misi perusahaan / institusi ? Jika demikian, mengapa assessment psikologi kok diminta menggambar sebagai salah satu penilaian ?</li>
<li>Apakah anda dalam psikotes pernah mendengar statement begini ? <strong>“Semua jawaban benar, tidak ada istilah benar/salah…jawablah pertanyaan sesuai dengan penilain anda !”</strong>. Kalau semua benar mengapa ditanyakan ? Jadi dalam psikotes memang secara instruksional banyak perintah-perintah yang “menyesatkan !”…mana ada pertanyaan yang jawabannya semua benar ? Konyol bukan ?</li>
<li>Pengalaman pribadi saya adalah secara penilaian psikologis saya divonis tidak mampu melanjutkan kuliah ke level Strata 1 (sarjana), saran yang ada bahwa saya masuk setingkat Diploma 3 saja, karena dinilai saya tidak prospektif menyelesaikan beban kuliah setara S-1. Realitanya jelas salah besar, saat ini saya sudah menyelesaikan Strata 1 dengan prestasi sebagai wisudawan terbaik di salah satu PTS terbaik di Yogyakarta. Ini kebohongan pertama dari analisa orang-orang psikologi yang berhasi saya bongkar, untuk yang lain sedang saya investigasi.</li>
<li>Anda pernah melihat para bankir atau para pejabat Negara yang korup ? Apakah anda tau mereka sudah banyak asam garam dan selalu berhasil melewati assessment psikologis dengan prestasi yang gemilang ? Itukah yang diharapkan dari assessment psikologis terhadap para pejabat di perusahaan / pejabat Negara ? Kalau jawabannya tidak, mengapa ahli-ahli psikologi tidak mampu membaca naluri kriminal mereka dari hasil tes psikologi ? Berarti assessment psikologis itu gak ada gunanya donk…lalu mengapa rela membayar mahal demi sebuah penilaian yang tidak valid sama sekali ?</li>
<li>Nilai kebenaran dari hasil psikotes tidak jauh beda dengan ramalan cenayang atau dukun…sama-sama TIDAK VALID. Jika hasilnya benar itu sifatnya tidak lebih dari sebuah kebetulan saja, dan jika salah selalu saja rame-rame mencari pembenaran atas kesalahan hasil diagnosa mereka.</li>
</ol>
<p>Lalu apa bedanya <strong>Ahli Psikologi sama Dukun</strong> ? Secara prinsip tidak ada bedanya karena sama-sama menggunakan metode yang tidak valid untuk meramal dan menentukan nasib manusia…Mereka sama-sama OMONG BESAR, hanya beda metode saja…yang satu pake metode tradisional..yang satunya menggunakan metode modern…yang satu penampilannya apa adanya, yang satunya tampil perlente dengan jas berdasi dan celana pantalon dengan sepatu kulit yang berkilap.</p>
<p>Lalu kebenaran absolut itu seperti apa untuk menilai kinerja ? Saran saya ukurlah sesuai dengan apa yang dilakukan dan diharapkan perusahaan. Tidak perlu menghambur-hamburkan uang demi mbayari orang-orang psikologi, lebih baik digunakan untuk memberi reward kepada karyawan yang memang berprestasi.</p>
<p>Jika dia sehari-hari berhadapan dengan computer dan mengelola teknis…maka ujilah dengan hal-hal yang terkait dengan bidang kerja…evaluasi secara langsung, dilanjutkan dengan Tanya jawab dengan pertanyaan-pertanyaan terkait. Kalau sehari-hari berkutat dengan administratif, maka ukurlah keberhasilan kinerja sesuai dengan capaiannya. Niscaya hasil penilaian kinerja yang seperti ini jauh lebih valid hasilnya ketimbang menggunakan parameter yang tidak jelas seperti yang dilakukan oleh Dukun ataupun ahli psikologi dengan berbagai pernak-pernik yang dimilikinya.</p>
<p>Jika bicara mengenai kebenaran absolut, maka jangan sekali-kali kita bertanya kepada makhluk Tuhan…percuma, karena kebenaran absolut hanya di tangan Nya. Jadi siapa yang lebih gila antara psikolog (modern) atau dukun (tradisional) atau klien-kliennya ? Hanya anda sendiri yang tahu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=289</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa pengaruhnya ?</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=282</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=282#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 06:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Maaf&#8230;berdasar link berikut &#60;&#60;change Management&#62;&#62;, kami sama sekali tidak mendapat manfaat dari pelatihan yang Bapak/Ibu ikuti&#8230;.maaf sekali ya Pak/Bu&#8230;bukan apa-apa, tapi kami berharap setelah Bapak Ibu menggunakan anggaran yang besar untuk pelatihan itu akan membawa banyak manfaat bagi institusi secara umum. Tapi ya mudah2an apa yang kami rasakan ini masih bagian dari proses perbaikan, bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf&#8230;berdasar<em> link</em> berikut &lt;&lt;<a href="http://sdm.ugm.ac.id/main/Pelatihan+Change+Management+di+Perguruan+Tinggi+pada+Era+Global">change Management</a>&gt;&gt;, kami sama sekali tidak mendapat manfaat dari pelatihan yang Bapak/Ibu ikuti&#8230;.maaf sekali ya Pak/Bu&#8230;bukan apa-apa, tapi kami berharap setelah Bapak Ibu menggunakan anggaran yang besar untuk pelatihan itu akan membawa banyak manfaat bagi institusi secara umum. Tapi ya mudah2an apa yang kami rasakan ini masih bagian dari proses perbaikan, bukan prestasi maksimal setelah mengikuti pelatihan tersebut. Semoga&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=282</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surprise From DAA UGM !</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=270</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=270#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 03:35:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[MTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Wah, lagi-lagi pagi ini ada kejutan dari DAA&#8230;heran ya&#8230;kok UGM sekarang manajemennya seperti ini. Setiap ada kebijakan baru tidak pernah ada sosialisasi sampai level bawah. Ada apa dengan UGM saat ini ? Bisa-bisanya model pendaftaran kok berubah sepihak, dulu setiap mengisi pendaftaran online ada pilihan minat studi yang dikehendaki mahasiswa&#8230;lha kok bisa-bisanya hari ini semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, lagi-lagi pagi ini ada kejutan dari DAA&#8230;heran ya&#8230;kok UGM sekarang manajemennya seperti ini. Setiap ada kebijakan baru tidak pernah ada sosialisasi sampai level bawah. Ada apa dengan UGM saat ini ? <span id="more-270"></span></p>
<p>Bisa-bisanya model pendaftaran kok berubah sepihak, dulu setiap mengisi pendaftaran <em>online</em> ada pilihan minat studi yang dikehendaki mahasiswa&#8230;lha kok bisa-bisanya hari ini semua diarahkan ke prodinya saja tanpa ada rujukan minat studi yang dituju ? Lha pendaftar kan panik semuanya kalo demikian. Lama-kelamaan kok harapan untuk membaik yang dulu pernah akau rasakan kelihatannya menjauh dari kenyataan. Semua SOP yang sudah kami rancang sesuai bagan pola alir UGM sebelumnya untuk mahasiswa dan calon mahasiswa semuanya gak berlaku lagi&#8230;dalam waktu belum ada 1 tahun semua sudah <em>out off date</em>&#8230;berapa ratus kali lagi kami harus selalu revisi peraturan dalam kurun waktu 1 tahun ?</p>
<p>Bukan bermaksud apa-apa&#8230;tapi ini jelas ada sesuatu yang salah di tingkat manajerial..yang saya tidak habis pikir kan di UGM ini banyak pakar mengenai <em>change management</em>, tapi menangani di internal saja kok kesannya kedodoran..di mana-mana pasti ada gejolak dan menimbulkan kejutan-kejutan yang &#8220;tidak bermutu&#8221;.</p>
<p>Sebagai pelaksana di level bawah saya merasa menjadi orang yang goblok di mata para pendaftar dan mahasiswa, banyak sekali <em>load-load </em>kerja yang tidak perlu sekarang membanjiri saya sebagai operator di lapangan. Bayangkan saja misalnya dulu untuk syarat wisuda yang mendetail itu kami sama sekali tidak pernah menangani, itu adalah wilayah sekolah pascasarjana dan mahasiswa untuk menyelesaikannya. Kini dengan kebijakan baru aku disibukkan dengan urusan syarat mahasiswa yang mendetail untuk wisuda.</p>
<p>Sepertinya efisiensi itu kok konyol sekali, cuma melempar pekerjaan saja ke pelaksana di bawah, sementara yang di atas pasti hanya enak-enakan saja karena banyak sekali beban yang berkurang. Beramai-ramai beban pekerjaan itu dilimpahkan ke birokrasi yang ada di bawah untuk menyelesaikan.</p>
<p>Menurut saya ini manajemen apa namanya ? Kok tidak sistematis begini ? Saya setiap hari selalu <em>overload</em>&#8230;setiap ada surat dari Fakultas dan diatasnya selalu diembel-embeli dengan kata-kata yang di BOLD tebal dan bewarna hitam legam bertuliskan <strong>&#8220;AMAT SEGERA !&#8221;</strong>, artinya kami diperintah untuk segera bekerja memenuhi permintaan birokrasi di atas. Lalu bagaimana dengan kewajiban saya kepada mahasiswa yang harus saya layani, bagaimana dengan melayani dosen dan <em>stakeholder</em> lain yang harus ditunaikan ? Pasti jawaban yang akan muncul adalah, itu pandai-pandainya anda mengatur waktu&#8230;buktikan bahwa anda bisa mengatur waktu ! Kok bisa demikian. ?</p>
<p>Sebenarnya banyak kekonyolan-kekonyolan lain yang saya terima selama ini, hanya saja itu off the record, tidak bisa saya gambalangkan di blog ini&#8230;dan tidak etis juga bagi saya untuk menyampaikannya di blog ini. Maaf kepada UGM saya tidak bisa terlalu lama memendam kekonyolan-kekonyolan yang saya rasakan selama ini&#8230;saya sudah menggunakan birokrasi yang benar dan semestinya saya tempuh untuk memberikan masukan bahkan mungkin komplain-kompalin terkait dengan tata manejerial di UGM ini&#8230;tetapi selalu saja mampet, seperti kata iklan produk mobil &#8220;NYARIS TAK TERDENGAR !&#8221;</p>
<p>Saya memang orang kecil, saya bukan orang yang miliki titel yang panjang seperti para manajer-manajer di sini..tetapi saya punya kepentingan juga untuk memiliki lingkungan kerja yang kondusif. Kalau saya memberikan masukan, memberikan kritik, saran itu bukan untuk menjatuhkan, melainkan itu karena saya cinta dengan institusi tempat saya bernaung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=270</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasib pegawai Tidak Tetap</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=260</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=260#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 05:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah Matriks Perbandingan Penghargaan dan Beban Kerja antara Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Tidak &#8220;Tetap&#8221;  (baca : &#8220;Jelas&#8221;). Dalam sebuah institusi yang di dalamnya terdiri dari dua golongan tersebut, pasti ada semacam &#8220;dominasi&#8221; dari yang memiliki status lebih kuat, misalnya saja antara PNS dan Non PNS. Kesalahan besar di Indonesia adalah bahwa penghargaan status [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Berikut adalah Matriks Perbandingan Penghargaan dan Beban Kerja antara Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Tidak &#8220;Tetap&#8221;  (baca : &#8220;Jelas&#8221;). Dalam sebuah institusi yang di dalamnya terdiri dari dua golongan tersebut, pasti ada semacam &#8220;dominasi&#8221; dari yang memiliki status lebih kuat, misalnya saja antara PNS dan Non PNS.</p>
<p><span id="more-260"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kesalahan besar di Indonesia adalah bahwa penghargaan status sebagai PNS ini didasarkan kepada &#8220;belas kasihan&#8221;..bukan berdasar kepada kemampuan kerja. Proses rekruitmennya pun terkadang juga hanya mencerminkan faktor &#8220;<em>Luck</em> / keberuntungan&#8221; saja. Misalnya dalam melakukan pengangkatan pegawai honorer ke PNS..biasanya diutamakan yang 5 tahun ke atas&#8230;bukan diberikan kepada siapa yang berprestasi. Akhirnya ya itu..sekarang negara harus menanggung beban pegawai PNS yang memiliki kinerja rendah dengan beban anggaran yang besar. Akibatnya sekarang pemerintah sudah diujung &#8220;KEBANGKRUTAN&#8221; yang diindikasikan dengan adanya moratorium penghentian rekruitmen PNS.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah kesalahan yang memang bukan &#8220;tidak dimengerti&#8221;&#8230;melainkan &#8220;sengaja dilakukan&#8221; demi kepentingan sepihak orang-orang yang diuntungkan dari situasi ini. Ini sama halnya dengan eksplorasi sumber daya alam habis2an&#8230;anak cucu mah biarin nyari makan sendiri&#8230;yang penting generasi sekarang bisa kaya-kaya&#8230;anak cucu mau mati kelaparan itu masa bodoh.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah pola manajemen di negara republik ENDONESA. Klasik, unik, dan menggelitik untuk selalu disimak.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: left;">
<td width="295" valign="top"><strong> PNS</strong></p>
<ol>
<li><strong>Gaji : </strong>Jelas dan besar. (kalo ada yang mengeluh gaji kecil dan pas-pasan itu bohong besar)</li>
<li><strong>Gaji/pensiun</strong> bisa diwariskan ke isteri / suami.</li>
<li>Tiap tahun jelas ada <strong>kenaikan pendapatan berkala</strong>.</li>
<li><strong>Waktu Kerja</strong> : Bisa dengan leluasa ongkang-ongkang.</li>
<li><strong>Tanggung Jawab :</strong> Kecil, kalo pun melanggar paling diberi surat peringatan atau pindah bagian saja. resiko ringan.</li>
</ol>
</td>
<td width="295" valign="top"><strong>Peg. Tdk &#8220;Tetap&#8221; (baca : &#8220;Jelas&#8221;) :</strong></p>
<ol>
<li><strong>Gaji</strong> : Tidak Jelas dan kecil. (Komponen gaji sering kali tidak ada standar yang jelas)</li>
<li><strong>Hutang</strong> bisa diwariskan ke isteri / suami.</li>
<li>Faktanya<strong> penurunan pendapatan berkala</strong>.</li>
<li>Kadang kala justru di press dengan lemburan-lemburan.</li>
<li><strong>Tanggung Jawab</strong> : Besar, Jika ada kesalahan bisa-bisa langsung diberhentikan tanpa diberi pesangon apapun dari institusi.</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=260</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BU DIKTI 2011 Kok Aneh ?</title>
		<link>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=253</link>
		<comments>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=253#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 04:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Tidak usah berpanjang lebar, saya ingin sharing mengenai kenaehan tawaran beasiswa unggulan DIKTI 2011 yang ditawarkan kepada tenaga kependidikan. Keanehan tersebut saya alami dalam melakukan pendaftaran memperoleh beasiswa ini : Secara tata administratif saya sudah memenuhi semua kriteria yang diumumkan secara terbuka oleh DIKTI melalui website. Secara internal semua kelengkapan pendaftaran saya juga sudah discreening [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tidak usah berpanjang lebar, saya ingin sharing mengenai kenaehan tawaran beasiswa unggulan DIKTI 2011 yang ditawarkan kepada tenaga kependidikan. Keanehan tersebut saya alami dalam melakukan pendaftaran memperoleh beasiswa ini :</p>
<p><span id="more-253"></span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Secara tata administratif saya sudah memenuhi semua kriteria yang diumumkan secara terbuka oleh DIKTI melalui <em>website.</em></li>
<li>Secara internal semua kelengkapan pendaftaran saya juga sudah di<em>screening</em> dari institusi dari tempat saya bekerja berdasarkan juknis yang diberikan oleh DIKTI.</li>
<li>Kenyataannya bahwa jangankan diterima beasiswanya, melalui tahapan tes saringan pun tidak karena dianggap saya tidak memenuhi syarat administratif yang ditentukan. (kok aneh ya..?)</li>
<li>Saya melihat keanehan pada pengumuman DIKTI yang secara terbuka diumumkan di website bahwa ada nama-nama yang sebenarnya sudah masuk pada kriteria <strong>“TIDAK BISA DIPROSES”</strong> karena berkas tidak ditemukan, atau karena sebab lain. Tetapi dilain kesempatan saya mencatat ada beberapa nama (sekitar 6 atau lebih) yang ternyata diberikan kesempatan untuk menunggu penilaian dari Tim (dalam proses)…lhoo ini bagaimana ? Katanya sudah masuk kategori tidak diproses..tapi kok justru diberikan kesempatan menunggu penilaian lebih lanjut ?</li>
<li>Saya melihat alokasi posisi yang diberikan kepada tenaga kependidikan prosentasenya sangat kecil dari pada yang berstatus dosen, yach memang sepertinya wajar jika tenaga kependidikan tidak mendapat porsi yang layak untuk memperoleh derajat S2, toh ya buat apa..?&#8230;jadi memang sepertinya kita tidak perlu menuntut banyak kepada pemberi beasiswa untuk memberikan alokasi yang cukup bagi tenaga kependidikan. Se-berprestasi-berprestasinya tenaga kependidikan ya paling-paling seputar itu-itu saja…menata administrasi yang baik, rapi, dan <em>auditable</em>…itu saja..tidak memerlukan kualifikasi standar pendidikan yang tinggi.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan saya :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pada poin manakah dari syarat yang secara terbuka diumumkan tersebut saya tidak memenuhi syarat. Saya bisa tunjukkan semua kelengkapan yang diminta.</li>
<li>Jika pada poin 1 ternyata pihak DIKTI tidak bisa menjawab (saya sudah email ke panitia seleksi mengenai kegagalan saya ini, dan tidak dijawab), berarti jelas ada syarat “di bawah tangan” yang tidak diketahui khalayak umum..dan hanya diketahui oleh DIKTI dan yang berkepentingan saja.</li>
<li>Terjadi keanehan pada alasan berkas saya tertolak karena “Status Dosen”..padahal jelas-jelas saya melamar dari jalur tenaga kependidikan…saya tidak tahu apa ada kesalahan <em>database </em>di sana atau apa ? Yang jelas saya tidak mendapat jawaban memuaskan atas gugurnya lamaran saya. Saya lebih suka kalah setelah berperang dan tahu alasannya secara terukur.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari semua itu, saya pun tidak akan memperpanjang masalah ini..karena saya paham benar bagaimana melakukan rekruitmen dengan cara yang elegan dan terukur. Memang tidak semua hal bisa ditransparansikan, akan tetapi bukan berarti kita harus mempraktekkan hal-hal yang serba tidak jelas. Dalam hal ini meskipun saya merasa tidak puas, tetapi tetap menghargai keputusan DIKTI sebagai panitia seleksi, sebagaimana slogan yang sering kita dengar dalam setiap kompetisi <strong>“Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat”</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk selanjutnya saya tidak akan lagi mengikuti seleksi-seleksi beasiswa serupa…mudah-mudahan saya diberikan rejeki yang cukup sehingga bisa memenuhi hasrat melanjutkan studi secara mandiri tanpa tergantung kepada donatur pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hikmah penting </strong>yang bisa saya ambil/petik dari berbagai kejadian yang tidak mengenakkan saya adalah bahwa ternyata setidak sempurna-sempurnanya kami di MTI ternyata dalam memberikan SOP pentahapan terhadap sesuatu jauh lebih baik dari pada yang ada dimanapun instititusi yang saya temui. Semua SOP yang ada di MTI bersifat <em>reasonable</em> dan dapat dijelaskan. Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align: justify;">Amin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mti.ugm.ac.id/~sonny/?feed=rss2&amp;p=253</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

